blog berisi artikel tentang pengetahuan,trendy dan inspiratif

test

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

My Blog List

Popular Posts

Saturday, February 5, 2022

Proposal

 

Analisis Aspek Akuntansi Keprilakuan Mempengaruhi Kinerja Perusahaan Jasa Kontruksi PT.WIKA

 



 

Disusun oleh


Nama    :    Usnida zakiyah amalina

 

 

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU

2021

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................              

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................

1.1.  Latar Belakang.....................................................................................................

1.2.  Masalah Penelitian..............................................................................................

1.3.  Perumusan Masalah............................................................................................

1.4.  Tujuan Kegiatan..................................................................................................

1.5.  Manfaat Penelitian..............................................................................................

BAB II LANDASAN TERITORIS................................................................................

2.1.  Deskripsi Teritoris..............................................................................................

2.2.  Penelitian Terdahulu...........................................................................................

2.3.  Kajian Teori Sesuai Variabel Penelitian..........................................................

2.4.  Kerangka Pemikiran............................................................................................

BAB III METODE PENELITIAN................................................................................

3.1.  Pendekatan Penelitian........................................................................................

3.2.  Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian..........................................................

3.3.  Identifikasi variabel penelitian.........................................................................

3.4.  Devinisi Konseptual Variabel Penelitian........................................................

3.4.1.Devinisi oprasional variabel penelitian..........................................

3.5.  Subjek dan Objek Penelitian.............................................................................

3.6.  Metode Pengumpulan Data................................................................................

3.7.  Uji Kredibilitas Penelitian Kualitatif...............................................................

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar belakang

Perkembangan teknologi menjadi salah satu dampak dari perkembangan zaman. Teknologi selalu mengalami perkembangan demi memenuhi kebutuhan manusia yang berkembang dari waktu ke waktu. Begitu pun juga dengan akuntansi dimana perkembangannya sejak dari zaman prasajarah sampai sekarang menunjukan bahwa manusia di zaman ini telah mengenal adanya perhitungan. Seperti halnya kehidupan sehari-hari baik secara sadar atau tidak sadar sesungguhnya kita telah menggunakan ilmu akuntansi, mulai dari hal terkecil seperti mencatat pendapatan dan pengeluaran.

            Penggunaan sistem akuntansi untuk mendapatkan informasi keuangan yang baik dan berkualitas tidak lepas dari sumber daya manusia yang dimana berperan untuk menjalankan sistem informasi. Hal tersebut tentunya secara tidak langsung dapat meminimalisir terjadinya kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan serta pengoperasian sistem akuntansi.

Sumber daya manusia yang dapat dikatakan berkualitas tentunya tidak hanya memiliki skill yang baik melainkan harus memiliki perilaku yang baik juga. Perilaku yang baik dapat dipengaruhi oleh motivasi dan sikap seseorang untuk mendorong dalam melakukan tindakan. Perilaku karyawan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan. Perilaku karyawan secara tidak langsung akan mempengaruhi hasil dari laporan keuangan yang menjadi tolak ukur pengambilan keputusan pihak external dan penggunanya.      

Oleh karena itu perlu adanya pertimbangan dari aspek keperilakuan dalam mendesain, menganalisis, serta mengelola sistem akuntansi. Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) merupakan bidang ilmu akuntansi yang menghubungkan antara perilaku manusia dengan sistem informasi yang lingkupnya mencangkup akuntansi keuangan dan akutansi manajemen (Supriyono, 2018:4)

Akuntansi diimplementasikan dan dipraktikan tidak lepas dari masalah manusia sebagai pelakunya, maka dari itu mempelajari dan memahami aspek perilaku manusia dalam dunia akuntansi yang lebih dikenal dengan istilah akuntansi keperilakuan (Behavioral accounting) merupakan hal yang sangat penting, Karyawan yang tidak didasari dengan perilaku yang baik akan berpengaruh buruk terhadap pekerjaan. Aspek keperilakuan yang terdiri dari aspek psikologi, dan psikologi sosial khususnya sikap, persepsi, dan emosi karyawan,

Akuntansi keperilakuan menyajikan informasi yang bersifat nonkeuangan. Informasi yang diberikan dapat berupa motivasi, tingkat turnover, absensi, gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan lain-lain, yang seringkali bersifat kualitatif (Kuang dan Tin 2010). Sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (behavioral science), teori-teori akuntansi keperilakuan dikembangkan dari penelitian empiris atas perilaku manusia di organisasi. Dengan demikian, peranan penelitian dalam pengembangan ilmu itu sendiri sudah tidak diragukan lagi (Hudayati, 2002). Suartana (2010:4) menyatakan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi mencakup keseluruhan bidang seperti akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi sektor publik, akuntansi sistem informasi, dan pengauditan. Ia menggunakan akuntansi keperilakuan dengan alasan diperlukannya pendekatan yang lebih integrative untuk memahami akuntansi. Tidak hanya sekedar angka-angka saja, tetapi sesuatu yang kompleks untuk itu diperlukan wadah yang bisa mengakomodasi kepentingan tersebut. Dengan menggunakan label akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) muncul kekuatan baru sehingga dapat lebih menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena dunia nyata.

Behavioral Accounting dapat dijelaskan oleh salah satu teori, yaitu attribution theory (teori atribusi). Teori ini mempelajari bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu peristiwa, mempelajari bagaimana seseorang menginterpretasikan alasan atau sebab perilakunya. Heider dalam Suartana (2010) mengargumentasikan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal (internal forces), yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri maupun exsternal berasal dari luar.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas,salah satu hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan.Seperti pada kasus perusahaan PT.wika yang bergerak pada bidang jasa kontruksi pembangunan jembatan meraah putik Kota Ambon telah ditemukan Kehadiran serta dalam melaksanakan pekerjaan tidak tepat waktu,penggunaan peralatan keselamatan kesehatan kerja k3 belum diterapkan secara baik olek karyawan,melalui penelitian ini, peneliti berharap dapat membantu perusahaan dalam menemukan hubungan yang konkrit antara perilaku karyawan PT.WIKA dengan perusahaan. Peneliti juga berharap dapat membantu perusahaan dalam menciptakan Akuntansi manajemen yang baik sehingga berdampak pada meningkatnya kinerja perusahaan. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti perlu melakukan penelitian lebih dalam dengan judul: “Analisis Paspek Akuntansi Keprilakuan Mempengaruhi Kinerja Perusahaan Jasa Kontruksi PT.WIKA”

1.2.   Masalah penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian yang telah dibahas dapat diidentifikasikan terdapat masalah dalam perilaku kinerja karyawan di PT.WIKA. Masalah yang terjadi diduga akibat adanya indikator penerapan peralatan keselamatan kesehatan kerja (K3) dan kedisiplinan dalam bentuk kehadiran karyawan yang tidak tepat waktu. Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan yang muncul antara lain:

1.      Keprilakuan Kinerja Karyawan

a.       Kehadiran karyawan yang tidak tepat waktu

b.      Ketidak tepatan waktu dalam bekerja

c.       Penerapan alat keselamatan kesehatan K3 tidak dengan baik

1.3.   Perumusan masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian yang telah di uraikan diatas dapat dirumuskan masalah-masalah yang muncul pada penelitian yaitu sebagai berikut:

1.      Apakah keperilakuan karyawan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan pada PT.WIKA?

 

1.4.   Tujuan kegiatan

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah: untuk mengetahui dan meneliti hubungan perilaku karyawan dengan Akuntansi keprilakuan mempengaruhi kinerja perusahaan pada PT.WIKA

 

 

 

1.5.   Manfaat Penelitian

1.      Hasil penelitian ini terkait dengan kontribusi terhadap perkembangan teori dan ilmu pengetahuan serta dunia akademis antara lain:

a.       Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan peneliti serta menambah ilmu baik dalam teori maupun praktek.

b.      Penelitian ini dapat digunakan sebagai studi perbandingan dan referensi bagi peneliti lain yang sejenis.

2.      Kegunaan Praktis

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a.       Bagi Perusahaan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan bahan evaluasi bagi pemimpin atau manajer perusahaan dalam rangka menjaga dan meningkatkan kinerja dari karyawan.

b.      Bagi Peneliti

Hasil ini diharapkan menambah pengetahuan dan pengalaman tersendiri dan dapat dijadikan bahan studi perbandingan antara teori yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan dengan praktek yang bada selama penelitian.

c.       Bagi Pihak lain

Diharapkan dapat bermanfaat dan berguna untuk memberikan informasi, menambah wawasan pengetahuan serta dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk pengkajian topik yang berkaitan dengan masalah ini selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TERITORIS

2.1.   Deskripsi Teritoris

2.1.1.      Pengantar Akuntansi Keprilakuan

Akuntansi perilaku (behavioral accounting) merupakan bagian dari disiplin ilmu akuntansi yang mengkaji hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, serta dimensi keperilakuan dari organisasi dimana manusia dan sistem akuntansi itu berada dan diakui keberadaanya. Dengan demikian definisi akuntansi keperilakuan adalah suatu studi tentang perilaku akuntan atau non-akuntan yang dipengaruhi oleh fungsi-fungsi akuntansi dan pelaporan.Menurut Siegel & Marconi (1989) akuntansi keperilakuan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi. Sedangkan menurut (Lubis, 2017) bahwa akuntansi keperilakuan mempelajari aspekaspek keperilakuan manusia yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan ekonomi.

Konsep keperilakuan dari psikologi dan sosial diantaranya sebagai berikut:

a.       Sikap : suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi.

b.      Persepsi : bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasikan peristiwa, objek, serta manusia.

c.       Nilai : suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanaan.

d.      Pembelajaran : proses dimana perilaku baru diperlukan. pembelajaran terjadi sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangaan dalam merespon situasi.

e.       Kepribadian : aplikasi utama dari teori kepribadian dalam organisasi adalah memprediksikan perilaku

 

 

lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga bidang besar:

a.       Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, konstruksi, dan penggunaan sistem akuntansi. Bidang ini mempunyai kaitan dengan sikap dan filosofi manajemen yang mempengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi yang berfungsi dalam organisasi. Pihak-pihak yang bertanggungjawab dengan akuntansi sudah seharusnya secara berkala melakukan evaluasi, apakah kebijakan-kebijakan maupun sikap dari pihak manajemen sudah mendukung proses akuntansi atau bahkan menjadi hambatan, baik secara teknis maupun psikologis.

b.      Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini berkaitan tentang bagaimana sistem akuntansi mempengaruhi motivasi, produktivitas, pengambilan keputusan, kepuasan kerja, serta kerja sama. Salah satu contoh adalah adanya masalah sistem akuntansi dalam organisasi yang sering diremehkan jika terjadi stagnasi alur informasi atau dokumen. Hal ini akan sangat mengganggu kelancaran proses akuntansi, yang pada akhirnya akan mengganggu proses pengambilan keputusan karena sulitnya mendapatkan informasi.

c.       Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia Bidang ketiga ini mempunyai hubungan tentang bagaimana cara sistem akuntansi dapat digunakan sehingga mempengaruhi perilaku. Pada saat dibuatnya sistem akuntansi yang ideal yang disesuaikan dengan kebutuhan sekarang, maka akan mengarahkan orang-orang untuk memiliki sikap disiplin dan tanggungjawab untuk menyampaikan informasi yang ada padanya dikarenakan kemudahan sistem dan feed back informasi yang baik dan bermanfaat untuk unit atau bagiannya

2.1.2.      Motivasi Kerja

Mangkunegara (2002:94), “motivasi kerja merupakan kondisi yang mempengaruhi, membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”.

Motivasi seorang pekerja utuk bekerja biasanya merupakan hal yang rumit, karena motivasi itu melibatkan faktor-faktor individual dan organisasional, menurut Gomes (2003;181) faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi yang sifatnya individual adalah kebutuhan-kebutuhan (needs), tujuan tujuan (goals), sikap (attidutes), dan kemampuan-kemampuan (abilities). Sedangkan yang tergolong pada faktor-faktor yang berasal dari organisasi meliputi pembayaran atau gaji (pay), keamanan pekerjaan (job secuirity), sesama pekerja (co-worker), pengawasan (supervision), pujian (praise), dan pekerjaan itu sendiri (job it self). Sedangkan menurut Mangkunegara (2002:74) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi kerja karyawan, yaitu:

a.       Perbedaan karakteristik individu meliputi kebutuhan, minat, sikap dan nilai.

b.      Perbedaan karakteristik pekerjaan. Hal ini berhubungan dengan persyaratan jabatan untuk setiap pekerjaan, yang menurut penempatan pekerjaan sesuai dengan bidang keahlian

c.       Perbedaan karateristik organisasi (lingkungan kerja) yang meliputi peraturan kerja, iklim kerja, dan budaya kerja yang disepakati.

 

2.1.3.      Disiplin

Disiplin Nitisemito dan Hasibuan dalam Widari (2016) menyatakan bahwa kedisiplinan merupakan kesadaran dan kesediaan seseorang dalam menaati seluruh peraturan sebuah perusahaan serta norma-norma sosial yang berlaku. Vania (2012) disiplin kerja untuk peningkatan sebuah efisiensi semaksimal mungkin melalui cara mencegah sebuah pemborosan waktu dan energi. Disiplin dapat mengatasi kesalahan dan kecerobohan yang disebabkan karena kurang perhatian, ketidakmampuan, dan keterlambatan (Halimah, 2018). Moekizat (2002) dalam Widari (2016) disiplin dapat timbul karena dua hal yaitu: (1) Self imposed discipline, disiplin yang muncul dari diri sendiri. Disiplin yang berasal dari diri sesorang pribadi pada hakikatnya ialah suatu tanggapan spontan pada seorang pimpinan yang cakap dan merupakan seperti halnya dorongan pada dirinya sendiri atau disebut motivasi, dan (2) command discipline, disiplin yang diperintahkan. Artinya, yaitu disiplin yang muncul karena kekuasaan yang untuk memperoleh pelaksanaannya menggunakan cara “menakutkan” melalui peraturan-peraturan atau budaya yang ada di dalam organisasi tersebut. Adapun sikap positif yang mendasari perilaku disiplin menurut Halimah dkk, (2018) yakni:

1.      Menunjukkan kemampuan

2.      Menunjukkan keteladanan

3.      Menunjukkan keadilan

4.      Menunjukkan ketaatan hukum

5.      Menunjukkan ketegasan

6.      Menunjukkan adanya balas jasa

7.      Menunjukkan kehati-hatian dan Keandalan.

2.1.4.      Kinerja Perusahaan

Definisi Kinerja

Kinerja adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode (Mulyadi, 2001 dalam Hanuma, 2011). Menurut (Mulyadi, 2007:328 dalam Nugrahayu dan Retnani, 2015), kinerja perusahaan sebagai keberhasilan perusahaan secara keseluruhan dalam mencapai sasaran-sasaran strategik yang telah ditetapkan melalui inisiatif strategik pilihan. Kinerja perusahaan diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk meraih tujuannya melalui pemakaian sumber daya secara efisien dan efektif dan menggambarkan seberapa jauh suatu perusahaan mencapai hasilnya setelah dibandingkan dengan kinerja terdahulu previous perfomance dan kinerja organisasi lain benchmarking, serta sampai seberapa jauh meraih tujuan dan target yang telah ditetapkan (Muhammad, 2008:14 dalam Nugrahayu dan Retnani, 2015). Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanan suatu kegiatan/program kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi (Wibowo, 2010:7 dalam Tahaka, 2013) Dari berbagai definisi kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan perfomance atau penampilan atau hasil kerja seseorang maupun organisasi dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan serta dapat diukur dengan standar yang telah ditetapkan selama

 

Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja merupakan pendekatan sistematik dan terintegrasi untuk memperbaiki kinerja organisasi dalam rangka mencapai tujuan strategi organisasi dan mewujudkan visi dan misinya (Mahmudi, 2005:15 dalam Pratiwi dan Mildawati, 2014). Pengukuran kinerja adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan karena merupakan usaha memetakan strategi ke dalam tindakan pencapaian target tertentu (Giri, 1998 dalam Dewi, 2015). Sistem pengukuran kinerja dapat dijadikan sebagai alat pengendalian organisasi, karena pengukuran kinerja diperkuat dengan menetapkan reward dan punishment system (Ulum, 2009 dalam Dewi, 2015). Menurut (Horngren, 1998 dalam Dewi, 2015), pada dasarnya ukuran kinerja yang baik mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Berhubungan dengan tujuan perusahaan 2) Mempunyai perhatian yang seimbang antara jangka pendek dan jangka panjang 3) Menggambarkan aktivitas kunci manajemen 4) Dipengaruhi oleh tindakan karyawan 5) Siap dipahami oleh karyawan 6) Digunakan dalam evaluasi dan bermanfaat bagi karyawan 7) Bertujuan logis dan merupakan pengukuran yang mudah

2.2.   Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.Penelitian tersebut sangat penting untuk diungkapkan karena dapat digunakan sebagai sumber informasi dan bahan acuan yang sangat berguna bagi penelitian ini.

Maka saya akan mencantumkan hasil penelitian terdahulu sebagai berikut:

1.      Hasil penelitian Heriskianti Samant,(2021)

Penelitian siti soufiatik berjudul “Analisis Aspek Keperilakuan Terhadap Penerapan Sistem Akuntansi Persediaan pada Proyek Tol Layang A.P. Pettarani, Makassar (Kantor PT. Wijaya Karya Beton,Tbk,”

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah aspek keperilakuan sikap, aspek keperilakuan persepsi, dan aspek keperilakuan emosi berpengaruh terhadap penerapan sistem akuntansi persediaan pada Proyek Tol Layang A.P. Pettarani, Makassar (Kantor PT. Wijaya Karya Beton, Tbk). Populasi penelitian ini adalah karyawan PT. Wijaya Karya Beton Tbk, Makassar. Sedangkan sampel penelitian sebanyak 50 karyawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek keperilakuan sikap dan aspek keperilakuan persepsi berpengaruh positif signifikan terhadap penerapan sistem akuntansi persediaan. Sedangkan aspek keperilakuan emosi tidak berpengaruh terhadap penerapan sistem akuntansi persediaan. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki culture atau budaya yang baik dimana culture ini menjadi landasan bagi para karyawan untuk bekerja berdasarkan sistem dan SOP perusahaan yang telah ditetapkan sehingga tidak terdapat peluang untuk memunculkan perdebatan yang bisa menimbulkan emosi.

 

2.      Hasil Hasil penelitian UMAR KUSUMA ATMAJA (2016)

Penelitian UMAR KUSUMA ATMAJA berjudul “Pengaruh Faktor Keperilakuan Organisasi terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Kabupaten Klaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisa dan mendapatkan bukti empiris tentang pengaruh factor keperilakuan organisasi terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah di kabupaten klaten sesuai Permendagri No. 64 Tahun 2014 Atas Perubahan Permendagri No.59 Tahun 2007. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survey dengan kuesioner. Populasi penelitian ini adalah semua kepala Sub bagian keuangan di kantor SKPD kabupaten Klaten. Analisis data dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan metode regresi linier berganda. Penelitian ini menggunakan data primer dan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 60 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Keperilakuan organisasi (dukungan atasan, kejelasan tujuan, pelatihan) berpengaruh terhadap kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan atasan, kejelasan tujuan dan pelatihan dapat mempengaruhi dalam mewujudkan kegunaan sistem akuntansi keuangan daerah lebih baik dalam suatu instansi

 

2.3.   Kajian Teori Sesuai Variabel Penelitian

2.3.1.         Penerapan Akuntansi keprilakuan (X)

Akuntansi keperilakuan berada dibalik peran akuntansi tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur, mencatat, dan melaporkan informasi keuangan. Lubis (2017:32) pengambilan keputusan dengan memanfaatkan laporan akuntansi keuangan dapat menjadi lebih baik hasilnya jika laporan tersebut mengandung banyak informasi yang sangat relevan. Akuntan mengakui fakta ini melalui prinsip akuntansi yang biasa dikenal dengan pengungkapan penuh (full disclosure).

 

Aspek Akuntansi Keperilakuan

Ilmu akuntansi ini sangat penting untuk diperhatikannya aspek-aspek yang berkaitan, beberapa di antaranya yaitu:

1.      Teori Organisasi dan Keperilakuan Manajemen

Teori organisasi ini membahas tentang komponen perilaku yang ada dalam perusahaan. Kemudian, teori ini juga membahas tentang perilaku manusia yang menjadi dasar atas berbagai tindakan yang dilakukan selama di perusahaan. Interaksi antar elemen juga kerap kali mendukung untuk mencapai tujuan perusahaan ke depan.

Tujuan dari adanya organisasi dalam perusahaan yaitu memperoleh hasil berupa proses dalam mempengaruhi setiap elemen atau divisi. Hal ini nantinya juga akan menghasilkan motivasi serta komitmen dalam organisasi perusahaan.

2.      Penganggaran dan Perencanaan

Aspek penganggaran dan perencanaan dalam perusahaan juga harus diperhatikan dengan baik. Hal ini sangat berguna untuk melihat interaksi antar masing-masing individu yang ada. Segala hal terkait penganggaran, kesulitan dalam mencapai tujuan, serta konflik di perusahaan ini merupakan sesuatu hal yang harus diperhatikan juga. Hal tersebut diharapkan nantinya akan memperoleh keselarasan antara tujuan perusahaan dan masing-masing individu. Dengan begitu, kedua hal yang selaras ini akan menjadi tombak dalam pengembangan dan kemajuan perusahaan.

3.       Pengambilan Keputusan

Terdapat tiga (3) jenis pengambilan keputusan yang harus diketahui, yaitu model normative, paradox, dan deskriptif. Model normatif ini merupakan suatu tindakan pengambilan keputusan yang di ambil oleh seseorang karena keadaan yang seharusnya untuk dilakukan itu.Lain halnya dengan model paradox yang membahas kebalikan dari model normative, yaitu tindakan pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan keadaan yang seharusnya. Kemudian, model deskriptif ini merupakan tindakan pengambilan keputusan yang melihat keadaan seseorang dengan fakta yang ada. Informasi yang di dapat inilah yang nantinya dijadikan sebagai dasar informasi akuntansi. 

4.      Pengendalian

Besarnya nilai pengendalian ini berbanding lurus dengan perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pengendalian di perusahaan akan seimbang seiring dengan laju perkembangan perusahaan. Aspek ini juga berhubungan dengan adaptasi masing-masing individu terhadap lingkungan sekitarnya.Poin penting yang perlu diperhatikan dalam aspek ini yaitu adanya struktur organisasi atau perusahan yang jelas, hirearki administrasi, serta pengendalian internal. Hingga saat ini, lingkungan menjadi kunci yang berperan dalam pengendalian selama kegiatan operasional perusahaan.

5.      Pelaporan Keuangan

Aspek perilaku yang berkaitan dengn pelaporan keuangan ini dapat berupa perataan laba, informasi akuntansi yang andal, hingga informasi akuntansi kepada investor. 

 

2.3.2.         Kinerja Perusahaan(Y)

Kinerja merupakan perilaku organisasi yang secara langsung berhubungan dengan produksi barang atau jasa. Informasi mengenai kinerja merupakan hal yang sangat penting namun kenyataannya banyak organisasi yang justru kurang bahkan jarang ada yang mempunyai informasi tentang kinerja karyawan. Menurut (Rivai dan Basri 2005) kinerja adalah kesediaan seseorang atas kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan.

Kinerja perusahaan adalah hasil dari kegiatan manajemen. Parameter yang sering digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan di mana informasi keuangan diambil dari laporan keuangan atau laporan keuangan lainnya.
Sehubungan dengan itu, pengukuran kinerja keuangan telah dilakukan oleh Rhoades et al. (2002), dan Chaganti Damanpour (1991); Slovin dan Sushka (1993). Penilaian kinerja bertujuan untuk menentukan efektivitas operasi perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode atau pendekatan. Kaplan dan Atkinson (1998: 551), kinerja non-keuangan, mengukur kinerja dengan menggunakan satuan pengukuran non-keuangan. Informasi yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan adalah informasi keuangan, akuntansi manajemen informasi, dan informasi akuntansi keuangan seperti laba sebelum pajak, laba atas investasi, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja, Healy (1995) menyatakan bahwa
pengukuran kinerja didasarkan pada kinerja pasar. Hal ini, menurut dia, memiliki beberapa kelemahan seperti jumlah kejadian yang tidak terkontrol. Ketidakpastian menyebabkan risiko harga pasar dan ini juga dapat menyebabkan kondisi tak terkendali dan ini, pada gilirannya, memberikan umpan balik yang tidak valid pada kualitas dan sejauh yang berkaitan dengan pengambilan keputusan manajemen. Selain itu, penggunaan kinerja internal juga memiliki kelemahan sebagai dasar pengukuran. Sebaliknya, kinerja internal manajemen dapat dikendalikan sehingga manipulasi dasar pengukuran yang mungkin dilakukan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja :

a. Efektifitas dan efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif  tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien (Prawirosentono, 1999:27).

b. Otoritas (wewenang)
Otoritas menurut adalah sifat dari suatu komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya (Prawirosentono, 1999:27). Perintah tersebut mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam organisasi tersebut.

c. Disiplin
Disiplin adalah taat kepda hukum dan peraturan yang berlaku (Prawirosentono, 1999:27). Jadi, disiplin karyawan adalah kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan organisasi dimana dia bekerja.

d. Inisiatif
Inisiatif yaitu berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
Karakteristik Kinerja Karyawan  :

Karakteristik orang yang mempunyai kinerja tinggi adalah sebagai berikut (Mangkunegara, 2002:68):
1. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
2. Berani mengambil dan menanggung resiko yang dihadapi.
3. Memiliki tujuan yang realistis.
4. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuannya.
5. Memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkrit dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukannya.
6. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.

Indikator Kinerja Karyawan :

Indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara individu ada enam indikator, yaitu (Robbins, 2006:260):
1. Kualitas. Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.
2. Kuantitas. Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
3. Ketepatan waktu. Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
4. Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
5. Kemandirian. Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor.

 

2.4.   Kerangka Pemikiran

Mengenai kerangka pemikiran atau alur penelitian ini menjelaskan bahwa PT.WIKA jasa kontruksi pembangunan jembatan mengalami permasalahan diantara lain kehadiran karyawan tidak tepat waktu serta dalam melaksankan pekerjaan,dan penggunaan peralatan keselamatan kesehatan kerja (K3) belum di terapkan secara baik oleh karyawan tersebut merupakan variable yang kemudian akan dianalisa bahwa apakah terdapat hubungan antara keprilakuan karyawan yang mempengaruhi kinerja perusahaan PT.WIKA.

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1.   Pendekatan Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengkaji secara mendalam dari permasalahan perilaku karyawan dalam Akuntansi keprilakuan yang mempengaruhi kinerja karyawan PT.WIKA

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif studi kasus. Menurut Maxfield (1930), studi kasus yaitu penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau atau khusus dari keseluruhan personalitas.subyek penelitian dapat berupa individu, kelompok, lembaga masyarakat.

Metode kualitatif berkembang ketika terjadinya perubahan terhadap paradigma dalam memandang suatu realitas, fenomena, maupun gejala yang diamati. Saat terjadinya perubahan paradigma tersebut, realitas sosial telah dipandang dan dipahami sebagai hal yang holistik, kompleks, dinamis, dan penuh dengan pemaknaan, Karakteristik yang utama dalam penelitian kualitatif antara lain memfokuskan perhatian pada kondisi yang bersifat alamiah, langsung kepada sumber data (primer/sekunder), peneliti merupakan instrumen utama, penyajian data dapat berbentuk kata/gambar, tidak menekankan pada bentuk angka, lebih mengutamakan proses daripada produk/hasil, analisis data dilakukan secara induktif, serta menekankan pemaknaan di balik data yang diamati oleh peneliti.

Peneliti mengunkan dokumentasi sebagai data, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data. Data yang diperoleh kemudian diolah, dianalisis dan diproses lebih lanjut dengan dasar-dasar teori yang telah dipelajari untuk menarik kesimpulan.

3.2.   Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Lokoasi

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada PT.WIKA lembaga pengembangan jasa kontruksi (LPJK) provinsi Maluku,kota Ambon.

Hal ini disebabkan lokasi penelitian merupakan tempat yang menggunakan sistem manajemen keselamatan kerja tetapi karyawanya belum menjalankan dengan baik.

Waktu Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan kurang lebih 1 bulan dari pertama memperoleh data hingga penelitian selesai,ditambah dengan waktu penambahan untuk perbaikan proposal dengan waktu paling terlambat tanggal 17 Desember 2021.

 

3.3.   Identivikasi Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 3 variabel yaitu variabel independen (bebas),variabel intervening (mediator) dan variabel dependen (terikat).

1.      Variabel independen / bebas (X) adalah : Perilaku Karyawan dalam aspek Akuntansi perilaku

Merupakan  variabel yang dapat mempengaruhi variabel intervening (mediator) dan variabel dependen (terikat),Adapun indicator variabel bebas (X) terdiri dari :

a.       Kehadiran karyawan tidak tepat waktu

b.      Pekerjaan tidak tepat waktu

c.       Penerapan alat K3 oleh karyawan belum baik

1.      Variabel dependen / terikat (Y) adalah : Kinerja Perusahaan

Merupakan variabel yang dipengaruhi variabel independen Adapun indicator kehadiran dan kinerja karyawan antara lain:

1.      Mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu

2.      Mampu menciptakan target pekerjaan

 

 

3.4.   Devinisi Konseptuan Variabel Penelitian

Definisi oprasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati.

Adapun definisi oprasional variabel penelitian dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini:

1.      Variabel bebas (X) Perilaku Karyawan dalam aspek Akuntansi perilaku

Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap penggunaan sistem akuntansi,yang diterapkan dalam perusahaan, yang berarti bagaimana sikap dan gaya karyawan dalan menjalankan profesinya

 

2.      Variabel terikat (Y) kehadiran dan kinerja karyawan

Semangat kerja dapat diukur melalui absensi /presensi pegawai ditempatkerja, tanggung jawabnya terhadap pekerjaan, disiplin kerja, kerja sama dengan pimpinan atau teman sejawat dalam perusahaan,Untuk mengukur tinggi rendahnya semangat kerja pegawai dapat melalui unsur-unsur semangat kerja tersebut yang meliputi : Presensi (tingkat kehadiran),Disiplin Kerja, Kerja Sama, dan Tanggung Jawab.

Presensi merupakan kehadiran pegawai yang berkenaan dengan tugas dan kewajibannya. Pada umumnya instasi atau lembaga selalu memperhatikan pegawainya untuk dating dan pulang tepat waktu sehingga pekerjaan tidak tertunda. Ketidak hadiran seorang pekerja akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan sehingga instansi atau lembaga tidak bisa mencapai tujuan secara optimal.

Sedangkan kinerja karyawan adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya yang di dasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu

Tabel 3.4.1

Devinisi Oprasional Variabel Penelitian

Variabel Penelitian

Definisi Oprasional

Indikator

1.      Penerapan Alat Keselamatan Kerja K3

(X)

Instrumen yang memproteksi perusahaan pekerja,lingkungan pekerja dari bahaya kecelakaan kerja

-        Perlindungan Karyawan

-        Alat perlingdungan diri (ADP)

-        Mengurangi resiko kecelakaan kerja

2.      Motivasi Kerja

 

(Z)

Keinginan dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut bertindak dengan suatu alasan untuk mencapai tujuan

-        Jaminan keselamatan dan kesehatan

-        Target yang di capai

3.      Kehadiran dan Kinerja Karyawan

 

(Y)

Kehadiran sebagai alat ukur tinggi rendahnya unsur-unsur semangat bekerja sedangkan kinerja karyawan suatu hasil karya yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab

-        Kedisiplinan

-        Kuantitas

-        Kualitas

-        Ketepatan Waktu

 

3.5.   Subjek dan objek penelitian

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi tetapi oleh Spradley dinamakan “social situation” atau situasi social yang terdiri atas tiga elemen yaitu:Tempat,pelakudan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis,Situasi social tersebut,dapat dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingin diketahui “apa yang terjadi”di dalamnya.

Dalam penelitian kualitatif ini tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan di berlakukan ke populasi, tetapi di transferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari.

Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber, atau partisipan, informan yang dapat di analisis olek peneliti,Sampel dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistic, tetapi sampel teoritis, dalam penelitian ini sebagai sample/objek yang menjadi sampel teoritis adalah data pada Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK) provinsi Maluku (PT.WIKA) mengenai penerapan peralatan K3 mempengaruhi kehadiran dan kinerja karyawan,karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori.

Jadi berdasarkan uraian diatas peneliti memutuskan untuk menggunakan teknik pengumpulan sempel dengan cara non-probability sampling,yaitu seknik sampling yang tidak memberikan kesempatan atau peluang pada setiap anggota populasi untuk dijadikan sampel penelitian.

Teknik non-probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling,Purposive sampling adalah teknik sampling yang digunakan penelitian jika peneliti mempunyai pertimbangan pertimbangan tertentu,Hasil penelitian tidak akan di generalisasika ke populasi karena, pengambilan sampel tidak diambil secara random. Hasil penelitian dengan metode kualitatif hanya berlaku untuk kasus sosial tersebut. Hasil tersebut dapat di transferkan atau di terapkan ke situasi sosial (tempat lain) apabila situasi sosial lain tersebut memilki kemiripan atau kesamaan denan situasi sosial yang diteliti.

 

3.6.   Metode Pengumpulan data

Metode yang digunakan adalah literature review, yaitu literatur dikumpulkan dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, artikel ilmiah yang saling terkait.

3.6.1.      Sumber Data

-        Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui pengumpulan yang telah ada pada perusahaan PT.WIKA Ambon . Data yang mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah dikelola,serta bisa juga berasal dari sumber tertulis atau internet.

3.6.2.      Teknik Pengumpulan Data

Tahap terpenting dari penelitian adalah pengumpulan data.

teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian,karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data,tanpa diketahui teknik pengumpulan data,maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan,

Dalam penelitian kualitatif teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui setting dari berbagai sumber,dan berbagai cara salah satunya dokumentasi

-        Dokumentasi

Dokumentasi dilakukan dengan cara pengumpulan beberapa informasi pengetahuan, fakta dan data. Dengan demikian maka dapat dikumpulkan data-data dengan kategorisasi dan klasifikafikasi bahan bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen, buku-buku, jurnal ilmiah, koran, website dan lain-lain.Dokumen ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan “Penerapan Alat Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) mempengaruhi Kehadiran Karyawan Dengan Motivasi Kerja Sebagai Variabel Intervening “dan data-data lain yang berkaitan dengan penelitian ini seperti Studi Pustaka, yaitu mengumpulkan data, informasi, dan teori yang relevan dari literatur dan hasil penelitian terdahulu, dan jurnal penelitian untuk mendukung analisis dan pemecahan masalah.

           

 

3.7.   Uji Kredibilitas Penelitian Kualitatif

Analisis data kualitatif sesungguhnya sudah dimulai saat peneliti mulai mengumpulkan data, dengan cara memilah mana data yang sesungguhnya penting atau tidak. Ukuran penting dan tidaknya mengacu pada kontribusi data tersebut pada upaya menjawab fokus penelitian. Di dalam penelitian lapangan bisa saja terjadi karena memperoleh data yang sangat menarik, peneliti mengubah fokus penelitian. Hal ini bisa dilakukan karena perjalanan penelitian kualitatif bersifat siklus,

Masalah yang telah ditentukan dalam penelitian kualitatif kemungkinan dapat berubah ketika turun lapangan, hal ini karena adanya hal yang lebih penting dan mendesak dari apa yang telah ditetapkan atau adanya pembatasan hanya sebagian kecil saja dari apa yeng telah ditentukan. Hal tersebut juga dapat terjadi pada saat observasi di mana situasi sosial yang mempunyai karakteristik khusus yang berbeda dari apa yang telah dirumuskan sebelumnya. Jika terjadi hal tersebut, untuk kaitannya secara berkelanjutan, peneliti selalu melakukan pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan sehingga tidak terjadi informasi yang salah atau tidak sesuai dengan konteks. Pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan dengan melakukan uji kredibilitas (credibility).

Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara catatanlapangan dokumen pribadi subyek yang akan diteliti (bila ada) dan dokumen resmi lainnya sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah diharapkan penelitian ini menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam merinci dan tuntas yang terjadi dalam keluarga yangterbentuk dari suami dan istri beda agama. Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif.Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. 

Menurut hitney dalam Moh.Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat sertasituasi-situasi tertentu ermasuk tentang hubungan-hubungan kegiatan-kegiatan sikap-sika pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomen Dikatakan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif karena yang akan diteliti adalah suatu fenomena yang timbul dalam suatu perusahaan jasa kontruksi dimana penerapan peralatan keselamatan kesehatan kerja K3 belum maksimal sehingga mempengaruhi motivasi kerja yang berakibat kehadiran karyawan tidak tepat waktu serta dalam melaksanakan pekerjaan lalu akan digali bagimana dampak yang diberikan atas masalah tersebut apakah banyak ditemukan kesulitan.

                               I.            Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Motivasi Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi kerja yang terbebas dari ancaman bahaya yang mengganggu proses aktivitas dan mengakibatkan terjadinya cedera, penyakit, kerusakan harta benda, serta gangguan lingkungan. Sedangkan motivasi kerja merupakan faktor penting yang fungsinya sebagai faktor pendorong dalam diri manusia atau karyawan yang diharapkan agar terarah atau tertuju untuk mencapai semua tujuan kegiatan dalam sebuah organisasi.

Menurut Mangkunegara (2002:162), “selain bertujuan untuk menghindari kecelakaan dalam proses produksi perusahaan, keselamatan dan kesehatan kerja juga bertujuan untuk meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja karyawan”. Dengan meningkatnya kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja karyawan maka dapat dipastikan motivasi dari karyawan akan meningkat. Pemberian fasilitas-fasilitas pendukung (misal: perlengkapan dan peralatan pelindung kerja) dan peraturan-peraturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan sangat diperlukan dalam mewujudkan usaha-usaha meningkatnya keselamatan dan kesehatan kerja.

Hubungan antara keselamatan dan kesehatan kerja terhadap motivasi kerja karyawan diperkuat lagi oleh pernyataan Yusuf et al (2012:139) bahwa keselamatan dan kesehatan kerja terbukti dapat menciptakan rasa aman dan nyaman serta dapat meminimalkan kemungkinanan kecelakaan. Rasa nyaman dan tidak memiliki rasa takut pada kecelakaan akan membuat karyawan lebih termotivasi dalam bekerja dan akan meningkatkan kinerja karyawan. Pendapat Yusuf et al (2012:139) juga sama dengan apa yang disampaikan oleh Aditama (2002:104) yaitu, “adanya jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang diberikan perusahaan kepada karyawan dapat memberikan manfaat dalam menjaga kinerja karyawan”. Hal ini semakin menguatkan bahwa dengan adanya jaminan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan akan merasa aman dan nyaman dalam melakukan pekerjaan, sehingga kinerja yang dicapai karyawan juga terjamin karena adanya motivasi kerja yang tiggi pada karyawan. Dari beberapa pernyataan diatas peneliti menyimpulkan bahwa perlindungan keselamatan mempunyai tujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, kecelakaan kerja menyebabkan kerugian baik langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan, karena adanya kecelakaan kerja maka karyawan tidak dapat bekerja secara optimal bahkan mungkin aktivitas karyawan menjadi terhenti, sehingga motivasi kerja berkurang. Kesehatan kerja juga merupakan faktor yang dapat meningkatkan motivasi kerja, dengan demikian terdapat pengaruh positif antara keselamatan dan kesehatan kerja dengan motivasi kerja. Mengingat begitu besarnya pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap perusahaan, maka setiap pengusaha atau perusahaan wajib untuk melindungi, memelihara dan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

                            II.            Hubungan motivasi kerja dengan kinerja karyawan

Kinerja merujuk pada fungsi kemampuan dan motivasi. Anda dapat menilai kinerja karyawan dengan mengamati kemampuannya menuntaskan tugas yang diberi sesuai dengan keahlian, keterampilan, dan motivasi.

Pengukuran kinerja akan membawa Anda pada tiga indikator produktivitas kerja yaitu kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu. Cermati kemampuan yang dimiliki karyawan untuk menilai sejauh mana ia mampu mengerjakan tugas sesuai ketentuan dan standar perusahaan. Kehadiran motivasi akan merangsang karyawan untuk mengerahkan kemampuannya sehingga mampu menunjukkan kinerja yang maksimal.

Menurut Robbins (2008:222) motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seseorang individu untuk mencapai tujuan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa;

a.       Motivasi kerja merupakan bagian yang urgen dalam suatu organisasi yang berfungsi sebagai alat untuk pencapaian tujuan atau sasaran yang ingin dicapai,

b.      Motivasi kerja mengandung dua tujuan utama dalam diri individu yaitu untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pribadi dan tujuan organisasi, dan

c.       Motivasi kerja yang diberikan kepada seseorang hanya efektif manakala di dalam diri seseorang itu memiliki kepercayaan atau keyakinan untuk maju dan berhasil dalam organisasi.

Dua hal yang berkaitan dengan kinerja/performance adalah kesediaan atau motivasi dari pegawai untuk bekerja, yang menimbulkan usaha karyawan dan kemampuan karyawan untuk melaksanakannya. Menurut Gomez (2003:177) bahwa kinerja/performance adalah fungsi dari motivasi dan kemampuan atau dapat ditulis dengan rumus P= f (M x A) dimana P= performance/kinerja, m = motivation/motivasi, a = ability/kemampuan. Kemampuan melekat dalam diri seseorang dan merupakan bawaan sejak lahir serta diwujudkan dalam tindakannya dalam bekerja, sedangkan motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk menggerakkan kreativitas dan kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan, serta selalu bersemangat dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Dari sebagian uraian yang telah dijelaskan dapat ditarik kesimpulan bahwa para karyawan mampu melakukan pekerjaan dan ingin mencapai hasil maksimal dalam pekerjaannya. Perwujudan kinerja yang maksimal, dibutuhkan suatu dorongan untuk memunculkan kemauan dan semangat kerja, yaitu dengan motivasi. Motivasi berfungsi untuk merangsang kemampuan karyawan maka akan tercipta hasil kinerja maksimal.

 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post Top Ad

Your Ad Spot

welcome to my world